Studi Kanker Bisa Direplikasi

Ditulis oleh Kerry Grens

Dalam sebuah penelitian, peneliti harus melakukan replikasi (melakukan percobaan itu kembali) untuk memastikan bahwa hasil yang didapat dari penelitian tersebut valid dan bukan kebetulan. Replikasi adalah isu yang sering menjadi masalah bagi peneliti karena tentunya akan menghabiskan banyak dana.

Selain itu, jika hasilnya tidak valid, maka akan dilakukan percobaan terus menerus sampai valid. Dalam berita kali ini, penelitian kanker yang dilakukan berulang kali terbukti valid. Artinya, kita mungkin bisa menggunakan atau mengodopsi metode peneliti luar negeri karena terbukti metode mereka valid. Hal itu terbukti dari penelitian yang dilakukan berulang kali mulai dari tahun 2010. Proses replikasi sudah dilakukan lebih dari 12 kali dan terbukti hasilnya tetap sama. Hal ini tentu memudahkan peneliti kanker untuk mencapai tujuannya.

Sumber: http://www.the-scientist.com/?articles.view/articleNo/49743/title/Cancer-Studies-Seem-Replicable/

Advertisements

Inovator Kristalografi Meninggal

Ditulis oleh Kerry Grens

Phil Coppens, penemu fotokristalografi meninggal pada umur 86 tahun pada tanggal 21 Juni 2017.

Coppens lahir di Belanda dan memperoleh gelar Phd pada tahun 1960. Beliau tertarik pada kristalografi karena bentuk kristal, susunannya serta aspek matematika serta hasilnya yang tidak ambigu.

Beliau aktif di Universitas Buffalo, mengajar di sana sampai akhir hayatnya. Selain itu, dia juga menjadi salah satu peneliti pertama yang menggunakan difraksi X-ray untuk mempelajari ikatan atom dan molekul dalam kristal.

Sumber: http://www.the-scientist.com/?articles.view/articleNo/49735/title/Crystallography-Innovator-Dies/

Ribosom Memiliki Fungsi yang Lebih Luas

Ditulis oleh Diana Kwon

ribosom mampu mengakumulasi protein dengan jenis yang berbeda. Mereka melakukan translasi mRNA tertentu seperti mengkontrol metabolisme dan siklus sel.

Penemuan ini membantu peneliti mengamati fenomena ribosomapati yang menyebabkan mutasi pada ribosom.

 

Sumber : http://www.the-scientist.com/?articles.view/articleNo/49721/title/Study–Ribosomes-are-Functionally-Diverse/

Jumlah Salinan Ribosom DNA berkurang pada Jenis Kanker Tertentu

Ditulis oleh Abby Olena

Jurnal penelitian terbaru diterbitkan pada tanggal 22 Juni 2017. Isi penelitian tersebut mengenai hal yang cukup fenomenal yaitu ribosomal DNA (rDNA). rDNA memiliki jumlah yang cukup repetitif sehingga peneliti kesulitan menganalisa rDNA. Namun, pada penelitian tersebut menunjukkan jumlah salinan rDNA semakin sedikit pada pasien penderita kanker meskipun sintesis protein dan rRNA bertambah pada tikus.

Jumlah salinan rDNA semakin sedikit dianalisa dari pasien penderita osteosarcoma, esophageal adenocarcinoma, dan AIDS lymphoma. Sel kanker cenderung tidak mampu memproduksi rDNA seperlima dari jumlah rDNA orang normal.

Sumber: http://www.the-scientist.com/?articles.view/articleNo/49718/title/Ribosomal-DNA-Copy-Numbers-Decrease-in-Some-Cancers/

Pengadilan Eropa Menyetujui Gugatan Pembuatan Vaksin

Ditulis oleh Bob Grant

Pengadilan Eropa mendukung penggugat pembuat vaksin jika perusahaan pembuat vaksin tidak memiliki cukup data untuk menunjukkan kinerja vaksinnya.

Keputusan ini dibuat dengan salah satu dasarnya kasus J.W, penduduk Prancis yang terkena penyakit setelah menerima vaksin hepatitis B sehingga dia menuntut Sanofi Pasteur pada tahun 2006. Penggugat mampu menggugat perusahaan vaksin jika mereka memiliki bukti ilmiah vaksin perusahaan itu mampu membuat penggugat mengalami kerugian.

Sumber: http://www.the-scientist.com/?articles.view/articleNo/49716/title/European-Court-OKs-Vaccine-Lawsuits-Lacking-Proof/

Gen Ragi yang Mampu Menghasilkan Racun dan Obat

Ditulis Diana Kwon

Ilmuwan menemukan gen wtf4 dari ragi Schizosaccharomyces kambucha yang mampu mengkode ekspresi racun dan obat berdasarkan jurnal yang dipublikasikan pada eLife.

Pada tahun 2014, peneliti menemukan gen penghantar meiosis pada S. pombe and S. kambucha yang mampu meningkatkan daya bertahan hidup mereka dengan menginterfensi meiosis yang menyebabkan kedua jenis ragi tersebut menjadi infertil. Gen yang mampu melakukan itu adalah wtf4. Gen ini menginterfensi meiosis dengan membuat dua transkrip yaitu satu untai RNA pendek yang mengekspresikan protein toksik dan satu untai RNA panjang yang mengekspresikan protein antitoksik. Racun itu dikeluarkan ke lingkungan tapi antitoksik tetap berada di dalam sel sehingga sel tidak rusak.

http://www.the-scientist.com/?articles.view/articleNo/49709/title/Selfish-Yeast-Genes-Encode-Both-Toxin-and-Antidote/

Mutasi yang Berhubungan Umur Pria

Ditulis oleh Jef Akst

Studi baru mengungkapkan delesi ekson 3 pada gen reseptor hormon pertumbuhan (d3-GHR) mungkin berperan penting. Studi ini meneliti 841 orang yang berumur tua dan hasilnya menunjukkan proporsi individu yang mempunyai kopi gen d3-GHR cenderung meningkat seiring dengan bertambahnya umur. Efek tersebut spesifik untuk pria, menunjukkan mereka yang mengalami mutasi ini akan memiliki umur 10 tahun lebih lama daripada yang tidak mengalami mutasi seperti yang dilansir oleh Science Advance.

Penelitian ini menunjukkan adanya delesi pada d3-GHR membuat orang hidup lebih lama. Selain itu, penelitian ini menunjukkan efek dari delesi d3-GHR menunjukkan orang menjadi satu inci lebih tinggi daripada orang normal. Penelitian lanjutan masih akan dilakukan.

Sumber: http://www.the-scientist.com/?articles.view/articleNo/49698/title/Mutation-Linked-to-Longer-Life-Span-in-Men/