Jumlah strain Bakteri dan Archaea Meningkat Dua Kali Lipat

Ditulis oleh Aggie Mika

Berdasarkan data DOE menunjukkan jumlah bakteri dan archaea meningkat dua kali lipat seperti yang dilansir oleh Nature Biotechnology. Data genomik kedua jenis mikroba tersebut diambil dari berbagai macam sumber seperti manusia, tanah, tanaman, air laut, pencernaan rayap. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui protein dan gen yang belum pernah teridentifikasi sebelumnya sehingga evolusi mikroba bisa diketahui.

Proyek ini perlu waktu satu dekade untuk bisa mendapatkan data yang fenomenal itu. Data itu menunjukkan protein baru yang berkontribusi 10 persen terhadap diversitas mikroba. 24.000 gen baru teridentifikasi yang mampu memproduksi enzim biosintetis dan metabolit sekunder.

 

Sumber: http://www.the-scientist.com/?articles.view/articleNo/49657/title/Number-of-Bacterial-and-Archaeal-Type-Strains-Doubled/

Ekstrak Brokoli Menurunkan Kadar Gula Darah pada Penderita Diabetes

Ditulis oleh Diana Kwon

Senyawa sulforafan adalah komponen yang cukup banyak pada brokoli. Senyawa ini diekstrak dari brokoli menjadi bubuk dan mampu menurunkan kadar gula darah penderita diabetes tipe 2 sebanyak 10 persen. Penurunan 10 persen kadar gula darah mampu mencegah komplikasi pada ginjal, mata, dan darah.

Riset lebih lanjut dibutuhkan untuk mengkonfirmasi fenomena ini.

Sumber: http://www.the-scientist.com/?articles.view/articleNo/49679/title/Broccoli-Extract-Lowers-Blood-Sugar-in-Diabetics/

Referensi Siulan pada Burung Flycatcher Berhubungan dengan Gen

Ditulis oleh Diana Kwon

Kebanyakan burung memiliki siulan yang khas. Kemampuan itu diduga bersifat bawaan seperti yang dilansir pada jurnal nature ecology and evolution.

Spesies masing-masing burung mampu membedakan siulan mereka. Kemampuan ini sudah ada sebelum kemampuan terbang. Pada saat peneliti menukar telur antar spesies, mereka mampu membedakannya berdasarkan siulan. Peneliti juga melakukan perkawinan silang pada burung beda spesies dan mereka masih mampu membedakan jenis siulan masing-masing spesies. Hal ini menjadi bukti yang mungkin mendukung fenomena siulan burung dipengaruhi oleh gen. Fungsi dari membedakan siulan masing-masing spesies berfungsi untuk menjadi pasangan dan berinteraksi dengan sesama spesies.

Sumber: http://www.the-scientist.com/?articles.view/articleNo/49667/title/Flycatchers–Song-Preference-Linked-to-Genes/

Lukisan Seni dalam Kesehatan

Ditulis oleh Abby Olena

Lukisan dan dunia kesehatan, apa hubungan antara dua bidang itu? artikel dari Abby Olena bisa menjawab pertanyaan tersebut. Kedua bidang yang terkesan tidak berhubungan sebenarnya memiliki korelasi satu sama lain.

Peneliti neurologis, Marc Paterson, melakukan diagnosa kepada seorang bernama Anna Christina Olson. Dia menduga menduga wanita ini terkena penyakit Charcot-Marie-Tooth, sebuah penyakit yang berhubungan dengan kerusakan saraf. Uniknya, Anna adalah objek sebuah lukisan satu dekade yang lalu. Jadi, Marc hanya mengidentifikasi Anna dari sebuah lukisan.

Pada lukisan tahun tertentu, suatu penyakit yang menimpa seseorang bisa menjadi objek inspirasi bagi pelukis. Contohnya lukisan Christina’s World yang menggambarkan seorang wanita tidak berdaya untuk pergi ke rumahnya. Gambar itu menunjukkan penyakit yang menimpa wanita itu membuat dia tidak mampu untuk berjalan. Meskipun begitu, ada beberapa lukisan yang tidak representatif menunjukkan gejala penyakit itu. Lukisan pada abad ke 19 cenderung menunjukkan kulit pucat pada orang tapi kulit pucat itu bukan menunjukkan sakit melainkan menunjukkan feminisme dan menunjukkan keahlian pelukis. Jadi, untuk mengamati apakah lukisan ini menggambarkan gejala suatu penyakit, maka kita harus mengetahui latar belakang pelukis dan kapan lukisan itu dibuat.

Sumber: http://www.the-scientist.com/?articles.view/articleNo/49640/title/Art-s-Diagnosticians/

Kelelawar Adalah Sumber Utama Coronavirus secara Global

Ditulis oleh Diana Kwon

Studi menunjukkan kelelawar adalah induk dari virus jenis coronavirus di Asia, Afrika, dan Amerika seperti yang dilansir Virus Evolution. Ilmuwan berusaha untuk mengetahui virus yang menetap di dalam kelelawar seperti SARS yang menyebar ke beberapa negara dan menyebabkan kematian lebih 700 penduduk dan MERS (Middle East Respiratory Syndrome) yang terdapat di 27 negara serta menyebabkan kematian sekitar 600 penduduk.

Makna dari studi ini memberikan pencerahan bagi peneliti untuk mengetahui persebaran penyakit sehingga munculnya penyakit bisa dicegah lebih dini. Simon Anthony, Virologi dari Universitas Kolumbia menyatakan selama ini timnya sudah meneliti hewan yang membawa virus bagi manusia seperti tikus, kelelawar, dan primata non manusia di daerah Asia, Afrika, Amerika Selatan, dan Amerika Tengah.  Hasilnya, terdapat 100 jenis coronavirus yang berbeda, 91 di antaranya terdapat di kelelawar. Virus pada kelelawar juga cukup variatif. Mereka cenderung berpindah dari kelelawar spesies satu ke yang lain.

Sumber: http://www.the-scientist.com/?articles.view/articleNo/49641/title/Bats-a-Major-Global-Reservoir-of-Coronaviruses/

Mutasi pada Gen memprediksi Respon Imunoterapi

Ditulis oleh Aggie Mika

Immune Checkpoint adalah komponen pada sistem imun yang berfungsi sebagai jalur penghambat kinerja imun. Tujuan sistem imun dihambat agar sistem imun tidak menyerang komponen tubuh manusia itu sendiri. Oleh karena itu, hambatan ini diatur oleh suatu komponen bernama Immune Checkpoint. Komponen ini selama ini menjadi target untuk mengobati kanker melalui imunoterapi. Jika anda mendengar istilah imunoterapi, maka target dari imunoterapi ini adalah Immune Checkpoint.

Hubungan dengan berita ini adalah Immune Checkpoint diblok dengan obat yang membuat mutasi gen DNA repair pathway. Sesuai dengan bahasa inggrisnya, DNA repair pathway adalah jalur biokimia yang mampu memperbaiki komponen DNA. Jurnal mengenai penelitian ini baru saja dipublikasikan pada tanggal 8 Juni 2017. Kebanyakan pasien tumor mengalami mutasi pada mismatch repair (MMR) yang berfungsi untuk memperbaiki susunan DNA. Metode ini menunjukkan efek positif pada pasien berumur 60 tahun yang terkena tumor empedu. Dia mendapatkan remisi setelah memperoleh perlakuan ini. Nama obat itu adalah Pembrolizumab. Cara kerjanya adalah obat ini akan berinteraksi dengan protein PD-1. Protein PD-1 adalah senyawa yang biasanya berinteraksi dengan sel T sehingga sel T tidak bisa bekerja. Jika protein PD-1 tidak ada, maka sel T bisa bekerja melawan sel lain. Obat ini berinteraksi dengan protein PD-1 dan dampaknya sel T bisa melawan sel lain yaitu kanker pada kasus ini.

 

Sumber: http://www.the-scientist.com/?articles.view/articleNo/49636/title/Gene-Mutations-Foretell-Immunotherapy-Response/

Perang & Penyakit

Tulisan ini juga mengutip artikel yang ditulis Diana Kwon

Selama ini perang diketahui mampu menghancurkan kota, menewaskan banyak penduduk tapi beberapa orang tidak menyadari bahwa ternyata perang juga mampu membawa penyakit secara harafiah.

Contohnya adalah meningkatnya penderita kolera pada Yemen. Negara tersebut mengalami perang selama dua tahun terakhir ini yang berdampak penyebaran penyakit kolera lebih mudah. Berdasarkan data dari WHO (World Health Organization), penderita penyakit diare sudah mencapai 101.820  dan menyebabkan 791 orang meninggal. empat puluh enam persen dari kasus itu adalah anak-anak di bawah usia 15 tahun dan 33 persen adalah penduduk di atas usia 60 tahun.

Bagaimana caranya kolera menyebar dengan cepat pada keadaan perang ? Saat perang berlangsung tentu dampaknya kerusakan utilitas pada negara Yemen. Efek tersebut berantai sampai proses pengolahan air dan makanan menjadi terganggu. Air dan makanan menjadi tidak terolah dengan baik seperti sterilisasi tidak maksimal sehingga kontaminasi seperti bakteri penyebab kolera mudah terjadi pada benda itu. Masyarakat yang tentu perlu kebutuhan akan barang itu, mau tidak mau harus mengkonsumsi air dan makanan tersebut. Mereka secara “terpaksa” terkena kolera. Lalu, air dan makanan yang terkontaminasi mempersulit penyembuhan pasien di rumah sakit juga. Hal ini tentu ironis mengingat kelihatannya kita berperang lawan manusia pada saat perang tapi sebenarnya kita juga menghadapi “makhluk” lain juga saat perang terjadi.

Sumber : http://www.the-scientist.com/?articles.view/articleNo/49634/title/Cholera-Ripping-Through-Yemen/