Jumlah Salinan Ribosom DNA berkurang pada Jenis Kanker Tertentu

Ditulis oleh Abby Olena

Jurnal penelitian terbaru diterbitkan pada tanggal 22 Juni 2017. Isi penelitian tersebut mengenai hal yang cukup fenomenal yaitu ribosomal DNA (rDNA). rDNA memiliki jumlah yang cukup repetitif sehingga peneliti kesulitan menganalisa rDNA. Namun, pada penelitian tersebut menunjukkan jumlah salinan rDNA semakin sedikit pada pasien penderita kanker meskipun sintesis protein dan rRNA bertambah pada tikus.

Jumlah salinan rDNA semakin sedikit dianalisa dari pasien penderita osteosarcoma, esophageal adenocarcinoma, dan AIDS lymphoma. Sel kanker cenderung tidak mampu memproduksi rDNA seperlima dari jumlah rDNA orang normal.

Sumber: http://www.the-scientist.com/?articles.view/articleNo/49718/title/Ribosomal-DNA-Copy-Numbers-Decrease-in-Some-Cancers/

Mutasi yang Berhubungan Umur Pria

Ditulis oleh Jef Akst

Studi baru mengungkapkan delesi ekson 3 pada gen reseptor hormon pertumbuhan (d3-GHR) mungkin berperan penting. Studi ini meneliti 841 orang yang berumur tua dan hasilnya menunjukkan proporsi individu yang mempunyai kopi gen d3-GHR cenderung meningkat seiring dengan bertambahnya umur. Efek tersebut spesifik untuk pria, menunjukkan mereka yang mengalami mutasi ini akan memiliki umur 10 tahun lebih lama daripada yang tidak mengalami mutasi seperti yang dilansir oleh Science Advance.

Penelitian ini menunjukkan adanya delesi pada d3-GHR membuat orang hidup lebih lama. Selain itu, penelitian ini menunjukkan efek dari delesi d3-GHR menunjukkan orang menjadi satu inci lebih tinggi daripada orang normal. Penelitian lanjutan masih akan dilakukan.

Sumber: http://www.the-scientist.com/?articles.view/articleNo/49698/title/Mutation-Linked-to-Longer-Life-Span-in-Men/

Referensi Siulan pada Burung Flycatcher Berhubungan dengan Gen

Ditulis oleh Diana Kwon

Kebanyakan burung memiliki siulan yang khas. Kemampuan itu diduga bersifat bawaan seperti yang dilansir pada jurnal nature ecology and evolution.

Spesies masing-masing burung mampu membedakan siulan mereka. Kemampuan ini sudah ada sebelum kemampuan terbang. Pada saat peneliti menukar telur antar spesies, mereka mampu membedakannya berdasarkan siulan. Peneliti juga melakukan perkawinan silang pada burung beda spesies dan mereka masih mampu membedakan jenis siulan masing-masing spesies. Hal ini menjadi bukti yang mungkin mendukung fenomena siulan burung dipengaruhi oleh gen. Fungsi dari membedakan siulan masing-masing spesies berfungsi untuk menjadi pasangan dan berinteraksi dengan sesama spesies.

Sumber: http://www.the-scientist.com/?articles.view/articleNo/49667/title/Flycatchers–Song-Preference-Linked-to-Genes/

Penyebab saham perusahaan berbasis CRISPR menurun

Ditulis oleh Claire Asher

Perusahan bioteknologi berbasis CRISPR akhir-akhir ini sahamnya mengalami penurunan hingga mencapai 15 persen untuk beberapa perusahaan tersebut. Kejadian ini bisa dimaklumi karena metode ini baru saja mengalami kesalahan dalam percobaannya. CRISPR/Cas9 menunjukkan tingkat kesalahan (error) yang cukup tinggi dari dugaan awal. Inilah yang membuat investor menarik saham mereka dari perusahaan pengembang metode CRISPR.

Pertanyaannya apakah investor memang harus melakukan itu? apakah berita tingkat error CRISPR yang cukup tinggi harus membuat mereka berspekulasi negatif mengenai perusahaan tempat mereka investasi?

Ternyata bagi beberapa orang mengatakan mereka tidak sepatutnya panik akan hal itu. Ritu Baral seperti yang dilansir oleh TheScientist mengatakan bahwa fenomena itu terjadi karena memang metode ini masih tahap pengembangan sehingga wajar jika hal error seperti itu terjadi.

Kronologi kejadian hasil CRISPR yang banyak error-nya berawal dari penelitian Stephen Tsang. Saat tim beliau berhasil menyembuhkan tikus dari kebutaan dengan CRISPR. Namun, kolega Stephen, Vinit Mahajan, membuat penelitian tentang tikus itu kembali tapi kali ini mengetahui seberapa banyak off-target (target yang tidak tepat sasaran) yang terdapat pada genetik tikus tersebut. Kejadian off-target bisa saja terjadi karena ketidaksempurnaan enzim Cas9. Hasilnya diluar dugaan menunjukkan banyak off-target pada tikus tersebut dibandingkan genetik tikus yang normal. Hal ini membuktikan bahwa percobaan in vitro (percobaan dengan lingkungan simulasi/ kultur ) dengan in vivo (langsung diinjeksi ke makhluk hidup) kurang representatif pada percobaan CRISPR. Setelah mengetahui hasil tersebut, Vinit mengatakan penelitian selanjutnya perlu dilakukan untuk mengetahui bagaimana off-target tersebut bisa terjadi.

Pada tempat yang berbeda, GaƩtan Burgio, mengatakan bahwa penelitian yang dilakukan Vinit kurang representatif sehingga hasil dari penelitian Vinit belum tentu menunjukkan kesalahan dari Cas9. Hal ini terjadi karena kontrol yang digunakan adalah data DNA tikus pada situs genetik bukan tikus kontrol yang diberi protein Cas9.

Sumber : http://www.the-scientist.com/?articles.view/articleNo/49621/title/Was-a-Drop-in-CRISPR-Firms–Stock-Warranted-/