Studi Kanker Bisa Direplikasi

Ditulis oleh Kerry Grens

Dalam sebuah penelitian, peneliti harus melakukan replikasi (melakukan percobaan itu kembali) untuk memastikan bahwa hasil yang didapat dari penelitian tersebut valid dan bukan kebetulan. Replikasi adalah isu yang sering menjadi masalah bagi peneliti karena tentunya akan menghabiskan banyak dana.

Selain itu, jika hasilnya tidak valid, maka akan dilakukan percobaan terus menerus sampai valid. Dalam berita kali ini, penelitian kanker yang dilakukan berulang kali terbukti valid. Artinya, kita mungkin bisa menggunakan atau mengodopsi metode peneliti luar negeri karena terbukti metode mereka valid. Hal itu terbukti dari penelitian yang dilakukan berulang kali mulai dari tahun 2010. Proses replikasi sudah dilakukan lebih dari 12 kali dan terbukti hasilnya tetap sama. Hal ini tentu memudahkan peneliti kanker untuk mencapai tujuannya.

Sumber: http://www.the-scientist.com/?articles.view/articleNo/49743/title/Cancer-Studies-Seem-Replicable/

Jumlah Salinan Ribosom DNA berkurang pada Jenis Kanker Tertentu

Ditulis oleh Abby Olena

Jurnal penelitian terbaru diterbitkan pada tanggal 22 Juni 2017. Isi penelitian tersebut mengenai hal yang cukup fenomenal yaitu ribosomal DNA (rDNA). rDNA memiliki jumlah yang cukup repetitif sehingga peneliti kesulitan menganalisa rDNA. Namun, pada penelitian tersebut menunjukkan jumlah salinan rDNA semakin sedikit pada pasien penderita kanker meskipun sintesis protein dan rRNA bertambah pada tikus.

Jumlah salinan rDNA semakin sedikit dianalisa dari pasien penderita osteosarcoma, esophageal adenocarcinoma, dan AIDS lymphoma. Sel kanker cenderung tidak mampu memproduksi rDNA seperlima dari jumlah rDNA orang normal.

Sumber: http://www.the-scientist.com/?articles.view/articleNo/49718/title/Ribosomal-DNA-Copy-Numbers-Decrease-in-Some-Cancers/

Mutasi pada Gen memprediksi Respon Imunoterapi

Ditulis oleh Aggie Mika

Immune Checkpoint adalah komponen pada sistem imun yang berfungsi sebagai jalur penghambat kinerja imun. Tujuan sistem imun dihambat agar sistem imun tidak menyerang komponen tubuh manusia itu sendiri. Oleh karena itu, hambatan ini diatur oleh suatu komponen bernama Immune Checkpoint. Komponen ini selama ini menjadi target untuk mengobati kanker melalui imunoterapi. Jika anda mendengar istilah imunoterapi, maka target dari imunoterapi ini adalah Immune Checkpoint.

Hubungan dengan berita ini adalah Immune Checkpoint diblok dengan obat yang membuat mutasi gen DNA repair pathway. Sesuai dengan bahasa inggrisnya, DNA repair pathway adalah jalur biokimia yang mampu memperbaiki komponen DNA. Jurnal mengenai penelitian ini baru saja dipublikasikan pada tanggal 8 Juni 2017. Kebanyakan pasien tumor mengalami mutasi pada mismatch repair (MMR) yang berfungsi untuk memperbaiki susunan DNA. Metode ini menunjukkan efek positif pada pasien berumur 60 tahun yang terkena tumor empedu. Dia mendapatkan remisi setelah memperoleh perlakuan ini. Nama obat itu adalah Pembrolizumab. Cara kerjanya adalah obat ini akan berinteraksi dengan protein PD-1. Protein PD-1 adalah senyawa yang biasanya berinteraksi dengan sel T sehingga sel T tidak bisa bekerja. Jika protein PD-1 tidak ada, maka sel T bisa bekerja melawan sel lain. Obat ini berinteraksi dengan protein PD-1 dan dampaknya sel T bisa melawan sel lain yaitu kanker pada kasus ini.

 

Sumber: http://www.the-scientist.com/?articles.view/articleNo/49636/title/Gene-Mutations-Foretell-Immunotherapy-Response/