Studi Kanker Bisa Direplikasi

Ditulis oleh Kerry Grens

Dalam sebuah penelitian, peneliti harus melakukan replikasi (melakukan percobaan itu kembali) untuk memastikan bahwa hasil yang didapat dari penelitian tersebut valid dan bukan kebetulan. Replikasi adalah isu yang sering menjadi masalah bagi peneliti karena tentunya akan menghabiskan banyak dana.

Selain itu, jika hasilnya tidak valid, maka akan dilakukan percobaan terus menerus sampai valid. Dalam berita kali ini, penelitian kanker yang dilakukan berulang kali terbukti valid. Artinya, kita mungkin bisa menggunakan atau mengodopsi metode peneliti luar negeri karena terbukti metode mereka valid. Hal itu terbukti dari penelitian yang dilakukan berulang kali mulai dari tahun 2010. Proses replikasi sudah dilakukan lebih dari 12 kali dan terbukti hasilnya tetap sama. Hal ini tentu memudahkan peneliti kanker untuk mencapai tujuannya.

Sumber: http://www.the-scientist.com/?articles.view/articleNo/49743/title/Cancer-Studies-Seem-Replicable/

Advertisements

Paradoks Umur Penerima Penghargaan NIH

Ditulis oleh Diana Kwon

Topik kali ini mungkin agak tidak mainstream di kalangan para pembaca yang ingin tahu tentang berita sains terbaru ya karena kali ini saya akan membahas suatu tulisan dari Diana Kwon. Jika biasanya berita di Indonesia membahas tentang penemuan luar negeri yang fenomenal, maka berita terjemahan kali ini adalah mengenai peneliti itu sendiri. Jarang-jarang kan ada berita tentang peneliti, dari luar negeri lagi yang kata orang-orang nasib jadi peneliti di sana lebih enak daripada di sini. Benarkah? Simak berita dari sekali lagi Diana Kwon

Kali ini ada isu menarik mengenai pendanaan NIH (National Institute of Health). NIH adalah organisasi penelitian di Amerika Serikat. Jika anda sering mengunjungi situs NCBI, maka anda tidak akan terasa asing dengan organisasi ini. Kalau anda mengikuti berita luar negeri, baru saja Donald Trump melakukan pemotongan budget untuk peneliti di sana sehingga mereka pun melakukan “unjuk rasa” bernama “science march” pada bulan April lalu. Ini mungkin menjadi bisa menjadi bukti di masa depan pekerjaan fundraiser untuk penelitian bisa jadi akan muncul. Sekarang ini isu yang dibahas oleh Diana adalah umur penerima penghargaan NIH. Sejak tahun 1982, penerima penghargaan NIH semakin tua. Artinya, Semakin sedikit peneliti muda yang mendapatkan hadiah ini. Diduga penyebab hal ini terjadi karena faktor usia peneliti yang semakin menua dan juga dana NIH yang sempat stagnan pada akhir tahun 90-an. Dampaknya, alokasi dana penelitian NIH cenderung diterima oleh peneliti yang sudah menerima penghargaan sebelumnya. Tentu usia mereka semakin menua pada saat menerima kembali penghargaan itu.

Dua faktor tersebut berdampak pada banyaknya peneliti muda yang semakin menurun melakukan penelitian dasar. Hal ini membuat negara sana membuat kebijakan NIH Early Stage Investigator (ESI) untuk menstimulasi peneliti muda di sana mendapatkan dana penelitian.

Sumber : http://www.the-scientist.com/?articles.view/articleNo/49600/title/Age-Related-Bias-in-NIH-Awards/